Headlines

Kapan pemimpin negeri ini punya akun twitter?

Posted by ridhaputra | Selasa, 19 Maret 2013 | Posted in


Ilustrasi
DARI tahun ke tahun, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin hari semakin cepat. Coba Anda perhatikan rilis produk baru dari vendor-vendor ponsel pintar ternama. Jika dua tahun lalu para vendor merilis produk baru dalam jangka waktu setahun sekali, sekarang mereka merilis setiap tiga hingga enam bulan sekali.
Fenomena ini membuat sebagian besar warga yang terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, pengusaha, pemerintah, professional, guru kecil maupun guru besar kewalahan mengikuti arus perkembangan teknologi yang semakin canggih ini.
Ini bisa terlihat dari minimnya masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi dengan maksimal seperti memiliki dan aktif di blog, facebook dan twitter.
Bahkan kurikulum sekolah pun tak mampu mengejar materi teknologi informasi yang cepat sekali berubah. Sepuluh tahun sebelumnya kita mungkin tak membayangkan bagaimana teknologi yang kita gunakan saat ini bisa secanggih, semurah dan semudah sekarang.
Kini, nyaris setiap anak muda dan anak “tua” di Aceh minimal memiliki sebuah perangkat teknologi berupa ponsel pintar yang sudah terhubung dengan internet. Melalui alat ini segala sumber informasi “apapun” dapat ditemukan sekejap mata.
Tidak hanya itu, perkembangan teknologi informasi tidak hanya sampai pada titik bagaimana seseorang dapat mencari solusi dan informasi cepat, tapi saat ini telah berkembang bagaimana seseorang bisa terhubung dengan siapapun dengan cara yang cepat, tempat dan tanpa batas kesenjangan strata sosial.
Kini, seseorang bisa mencari orang yang ingin “ditemui” melalui sosial media seperti Facebook, Twitter, Youtube dan melihat semua tulisan seseorang melalui blog pribadinya.
Teknologi murah hanya dengan modal koneksi internet ini telah mengubah gaya hidup seseorang dalam memulai sebuah hubungan pertemanan baru atau menjalin komunikasi tanpa tatap muka, baik itu sebagai teman biasa atau menjadi teman yang “tidak biasa”.
Kalau dulu kita sulit sekali bisa berkenalan dan berinteraksi dengan pejabat, artis, tokoh masyarakat, kini kita bisa terhubung dan berinteraksi hanya dengan modal akun facebook dan twitter, lalu berujung perkenalan di dunia nyata tanpa merasa canggung.
Di sini penulis ingin mengangkat sisi positifnya yang jauh lebih besar jika kita dapat terhubung satu dengan yang lainnya melalu internet ketimbang menakut-nakuti efek negatif yang tentu ada solusinya dan dapat kita minimalisir.

Bermanfaat dengan saling terhubung

Pertanyaan besarnya adalah sudahkah Anda terhubung dengan netizen (warga di internet)? Pertanyaan ini khusus saya ajukan bagi Anda yang tidak tinggal di gunung tanpa koneksi internet, bagi Anda yang tinggal di daerah yang wilayahnya damai, aman dari perang tanpa ancaman, bagi Anda yang memiliki koneksi Internet walaupun lelet, bagi Anda yang berpendidikan khususnya para akademisi, guru kecil maupun guru besar, bagi Anda para pejabat pelayan masyarakat, bagi Anda masyarakat biasa yang bisa menggunakan internet atau memiliki ponsel pintar yang terhubung dengan internet.
Nah, jika Anda sudah memiliki syarat di atas maka patut dipertanyakan apa peran Anda dalam masyarakat yang katanya telah “beradab” dan penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang selalu disampaikan oleh khatib jumat.
Kenapa patut dipertanyakan? Karena sebagai seorang muslim, kita meyakini dan sama-sama bercita-cita menjadi manusia terbaik yaitu manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, tidak hanya bermanfaat bagi keluarganya tapi juga lingkungan masyarakat dan alam sekitar.
Dengan semakin ramainya netizen, kita tidak cukup berinteraksi dengan warga di alam nyata tapi juga perlu terhubung dengan warga di alam maya. Dengan terhubung di internet, maka potensi seseorang agar makin banyak manfaatnya terhadap sesama makin besar.
Bayangkan seorang guru kecil dan guru besar yang membantu dan menjadi inspirasi bagi miliaran orang di seluruh dunia melalui tulisan tulisannya di blog. Atau seorang birokrat yang memanfaatkan sosial media seperti facebook dan twitter untuk dapat berinteraksi dan menerima aduan dari rakyatnya. Lalu para pengusaha yang memperluas pangsa pasarnya, bersaing secara global dan melayani kebutuhan pelanggannya dengan menjual produk dan jasanya via media online.
Bahkan masyarakat biasa dengan keilmuan dan wawasan yang dimilikinya dapat berbagi ilmu dan menyampaikan ide-idenya untuk arah perubahan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
Dengan terhubung melalui social media maka "gap" (kesenjangan) antara pemimpin dengan rakyat dapat diminimalisir. Rakyat akan merasa dekat dan merasa memiliki pemimpin.
Jangan seperti sekarang, pemimpin selalu harus dilayani dan mendapat fasilitas mewah dari uang rakyat sedangkan rakyat menjadi pelayan sejati pemimpin.
Ayolah, jangan alergi dan jadi beban jika dekat dengan rakyat, aktifkan akun sosial media tapi jangan sampai dijawab ajudan. Bagi penulis, sungguh lucu bila fasilitas gratis di internet ini sudah tersedia tapi tidak dimanfaatkan untuk kebaikan.
Yang mengherankan lagi, dengan teknologi sosial media yang canggih ini, pemerintah kita masih menggunakan fasilitas SMS center yang sudah ketinggalan jaman dan tidak efektif lagi.
Saya bahkan pernah mencoba SMS Senter Polda Aceh dan alhamdulillah, tidak pernah mendapat balasan apapun. Artinya tidak terjalin komunikasi dua arah antara pemimpin dengan rakyat.
Perlu diketahui, khususnya kalangan pemimpin kita di Pemerintahan Aceh, jika pemerintah kita ingin membeli salah satu saja dari perusahaan sosial media seperti twitter maka 10 tahun APBA pun belum cukup untuk membelinya. Kenapa fasilitas canggih ini tidak dimanfaatkan untuk kepentingan publik?
Rakyat menunggu terobosan-terobosan yang revolusioner dari para pemimpinnya, khususnya kepada kalangan pemerintah dan akademisi yang menjadi cermin kemajuan suatu bangsa.
Saya telusuri, birokrat, wakil rakyat, pengusaha dan akademisi yang terhubung dengan sosial media masih sangat sedikit. Ini menunjukkan rendahnya sifat keterbukaan dari mereka yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyat, khususnya kepada kalangan akademisi, para cendikiawan, para doktor, guru-guru besar yang katanya saat muda menjadi agen perubahan tapi sekarang setelah dunia berubah guru-guru kita ini tidak siap dengan perubahan dan tidak mengambil peran dalam perubahan seperti sekarang ini.
Bahkan banyak sekolah, kampus negeri dan swasta di Aceh yang belum memanfaatkan dahsyatnya kegunaan facebook dan twitter agar bisa terhubung dengan muridnya. Kita jangan hanya menyalahkan generasi muda yang salah arah dalam memanfaatkan teknologi. Boleh jadi buruknya moral generasi muda dan tua sekarang karena para pemimpin negri ini tak pernah memberi teladan dan memberi jawaban bagi masalah mereka.
Boleh jadi, seorang murid ingin berdiskusi, berinteraksi, memperoleh jawaban akan masalah hidupnya dengan para gurunya melalui facebook, twitter dan blog, tapi karena gurunya gagap teknologi, tidak memiliki akun sosial media, menganggap sepele, akhirnya si murid salah arah dan jatuh ke jurang masalah lain.
Terkadang saya iri dengan pejabat-pejabat di pusat seperti @iskan_dahlan @tifsembiring atau guru-guru besar di sana seperti @rhenaldkasali @nazarsjamsuddin @yusrilihza_mhd @mohmahfudmd yang aktif di twitter bahkan kabarnya tanpa menggunakan admin, berbagi berbagai ilmu dan wawasan.
Nah, lucunya pejabat-pejabat kita di Aceh atau guru-guru besar ketika kita ingin sarankan agar aktif di twitter malah menolak mentah-mentah dengan sejuta alasan, nanti staf saya yang uruslah, saya sibuk nggak punya waktulah, dan alasan macam-macam.
Sementara generasi muda di Aceh yang aktif di facebook dan twitter sangat berharap “teladan” mereka. Generasi muda di Aceh juga butuh guru-guru, tengku-tengku yang aktif di facebook dan twitter yang berguna sebagai tempat mereka curhat dan bertanya masalah agama.
Saat ini dakwah jangan diartikan sempit hanya di dunia saja, tapi menyampaikan kebaikan selain di bumi dan langit juga di internet.

Peran Komunitas

Memang kita sadari, minimnya sumber daya manusia yang menguasai teknologi informasi selalu menjadi kambing hitam. Ini membuktikan kenaikan gaji tidak berpengaruh kepada meningkatnya kualitas sumber daya manusia selama karakter SDM tidak berubah, karena sifat orang yang sudah digaji itu berada dalam zona nyaman dengan tanggung jawabnya sehingga akan mengeluh jika ada tanggung jawab baru yang harus dipikulnya apalagi tanggung jawabnya hanya dipikulnya sendiri.
Tapi masalah ini bukan berarti tanpa solusi, membanjirnya komunitas IT di Aceh seharusnya menjadi rujukan bagi kalangan birokrat dan akademisi untuk dapat bersinergi, tidak hanya berharap dengan SDM internal yang tersedia.
Para pihak yang berkepentingan harus merendahkan hatinya untuk bisa menerima kenyataan bahwa kurikulum dan aturan pemerintah tak dapat mampu mengejar perkembangan teknologi informasi yang sangat dinamis ini.
Para pemimpin perlu kebijakan-kebijakan super dengan merangkul komunitas untuk bersinergi bersama-sama memberi solusi, bukan hanya solusi berbasis proyek fisik yang setiap tahun justru menjadi mangsa para penjahat berdasi bernama koruptor tapi juga solusi berbasis program pelatihan SDM berbasis keahlian.
Mudah-mudahan para pemimpin di negeri ini yang belum punya akun twitter nanti malam segera bertobat kepada Allah swt, meminta ampun dan segera aktif terhubung dengan rakyat melalui facebook dan twitter sehingga berbagai masalah di negeri Aceh ini dapat kita temukan solusinya bersama dengan cepat dan murah. Insyaallah.

DPRK Simeulue lantik dewan Pengganti Antar Waktu dari Demokrat

Posted by ridhaputra | | Posted in


Ilustrasi 

NADIRSYAH Kuat dilantik jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Simeulue sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) dari Partai Demokrat, Selasa, 19 maret 2013.
Seremoni pergantian itu digelar di ruang sidang lantai II gedung dewan setempat. Nadirsyah Kuat menggantikan almarhum Sasauh yang meninggal pada 16 Desember 2012 lalu karena sakit.
Nadirsyah Kuat dilantik dan diambil sumpah sebagai anggota legislatif Simeulue hingga berakhir masa jabatan pada 2014.
Pergantian itu telah melalui prosedur yang berlaku. Dewan Pimpinan Cabang Demokrat Simeulue mengusulkan Nadirsyah Kuat dan disetujui Komisi Pemilihan Umum.
Dalam pelantikan dan pengambilan sumpah janji Nadirsyah Kuat, turut dihadiri dan disaksikan Bupati Riswan NS dan seluruh anggota dewan Simeulue

KOPER minta bupati bireuen berkata JUJUR

Posted by ridhaputra | | Posted in


Demo massa KOPER. @ MS Sultan/ATJEHPOST
PERNYATAAN Bupati Bireuen, Ruslan M. Daud, menanggapi aksi unjuk rasa yang mekritik soal tenaga honorer menuai reaksi mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Pemuda Peduli Bireuen (KOPER). "Menimbulkan keanehan yang baru," kata Saifullah, koordinator koalisi ini tadi malam melalui rilisnya.

Dia mengatakan, jumlah tenaga honorer yang terdata di dinas kepegawaian saat ini 1.921 orang. "Kata bapak Bupati Bireuen ditambah tenaga magang 400 orang atau tenaga sukarela yang ingin mengabdi untuk daerah, di tahun 2013 sangat meningkat honorer di bandingkan tahun sebelumnya," katanya.

Dalam rilisnya, Siafullah melanjutkan, berdasarkan UU no 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, publik berhak tahu berapa jumlah honorer. Selain itu, "kebijakan Pemerintah Bireuen sudah melawan Peraturan Gubernur Aceh no 65 tahun 2012 tentang UMP/UMK (Upah Minimun Provinsi/Upah Minimum Kabupaten), dan UU no 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan," katanya.

Dia mengatakan, para pekerja bakti itu juga butuh biaya untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. "Sedangkan manusia yang bekerja di lingkungan pemerintah berstatus honorer ataupun tenaga sukarela tidak mendapat perlakuan standarisasi upah minimum, ini yang kami sebut aneh," kata Saifullah.  "Jika menerima pegawai seharusnya menjalankan konsekuensi untuk membayar upahnya."

Karena itu, katanya, mereka tetap tetap mendesak Bupati Ruslan membuka ke publik soal tenaga honorer dan mengungkap dugaan mengutip upeti pada masyarakat yang masuk untuk tenaga honorer. "Kami berharap bupati tak bersembunyi di balik permainan kata-kata untuk menyembunyikan fakta sebab kami masyarakat Bireuen lebih mengutamakan kejujuran pemimpinnya," katanya.

"Kami ingin kabupaten Bireuen menjadi lebih baik, pembangunan ekonomi masyarakat diperhatikan dengan benar. Para pejabat di pemerintahan kabupaten jangan mengutamakan keuntungan pribadi dengan mengorbankan rakyat Bireuen."

Nelayan aceh barat yang terdampar di andaman di pulangkan

Posted by ridhaputra | | Posted in


ilustrasi: @shnews.com

SEORANG warga Aceh Barat yang terdampar di Perairan Pulau Andaman, India, sejak 23 Desember 2012 lalu, akhirnya dipulangkan ke kabupaten  Aceh Barat melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.
Kepada wartawan, nelayan bernama Khairuddin itu mengaku terdampar saat berlayar bersama tiga rekannya pada 10 November 2012. Mengguanakan perahu penangkap ikan, mereka melaut melalai jalur pelabuhan Lhokseumawe hingga ke perairan perbatasan Indonesia.
Dalam perjalanan, seorang temannya bernama Abu Bakar meninggal dunia di tengah lautan. "Rekan saya meninggal karena sakit serta kekurangan makanan. Kami terombang-ambing di lautan selama 37 hari," kata Khairuddin, Rabu, 20 Maret 2013.
Untuk bertahan hidup, kata Khairuddin, mereka menangkap ikan-ikan kecil di lautan.
Sebelum diserahkan ke Kedutaan Besar Indonesia di India, Khairudin mengaku diperlakukan dengan baik selama mereka di India

Harga cengkeh kering hampir 100 ribu per kilogram

Posted by ridhaputra | | Posted in


Ilustrasi cengkeh kering
HARGA jual buah cengkeh kering di pasar lokal Kabupaten Simeulue mendekati Rp100 ribu per kilogram.
"Saat ini harga cengkeh kering tidak menetap dan berubah-rubah mulai dari Rp90 ribu hingga  Rp100 ribu per kilogram," kata Kardiar, salah seorang penampung tetap di Kota Sinabang yang ditemui ATJEHPOSTcom, Rabu, 20 Maret 2013.
Harga yang sama juga ditetapkan agen penampung keliling dengan sistem pembelian langsung ke pemilik buah cengkeh kering di 10 kecamatan di Simeulue.
"Kita juga tidak hanya menunggu penjual, juga ada agen yang langsung turun membeli cengkeh ke pemilik yang ada di gampong-gampong," ujarnya.
Di sisi lain, Amir selaku pemilik cengkeh kering mengaku harga saat ini masih di level Rp90 ribu per kilogram. "Harga cengkeh untuk saat ini tidak turun dari Rp90 ribu per satu kilogram meskipun ada agen keliling yang datang membeli cengkeh kita," kata warga Kecamatan Alafan tersebut.
Amir mengaku memiliki lebih dari 70 batang pohon cengkeh warisan dari orang tuanya. Dia masih menyimpan puluhan kilogram buah cengkeh kering menunggu naiknya harga cengkeh.
Harga buah cengkeh kering di tingkat penampung tetap dan agen penampung keliling di Kabupaten Simeulue tidak tetap dan setiap hari terjadi perubahan harga

Mantan Bupati Aceh Besar pimpin LPSDM Aceh

Posted by ridhaputra | | Posted in


GUBERNUR Aceh, Zaini Abdullah mengatakan jika Pemerintah Aceh telah menunjuk mantan Bupati Aceh Besar, Bukhari Daud, sebagai Ketua Pelaksana Lembaga Pengembangan Sumber daya Manusia (LPSDM).
Penunjukan mantan bupati itu, kata Doto Zaini, sapaan akrab Gubernur Aceh, didasari atas kepribadiannya yang jujur dan bertanggung jawab.
“Saya sudah memilih Bukhari Daud, mantan Bupati Aceh Besar, untuk memimpin lembaga pengelola beasiswa itu. Dia jujur dan akan mampu mengelola beasiswa,” kata Doto Zaini, pada acara kuliah umum dan seminar di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Selasa 19 Maret 2013.
Menurut Doto Zaini, penunjukan Bukari Daud juga merupakan salah satu langkah untuk menciptakan pembenahan manajemen LPSDM.
“Ini juga proses dari pembenahan manejemen dulu. Saya harapkan sabar, karena tidak mungkin bagi saya untuk tidak memajukan pendidikan dan generasi Aceh,” ujarnya

PAMERAN ACEH EXPO 2013

Posted by ridhaputra | | Posted in


Aceh Expo
Dalam rangka VISIT ACEH 2013, CANTOREO Indonesia didukung sepenuhnya oleh Gubernur Aceh dan Disbudpar Aceh akan menggelar ACEH EXPO 2013 pada tanggal 5-9 Juni 2013 di Lapangan Blang Padang-Banda Aceh.
Kegiatan tersebut akan didiisi dengan pameran IKM-UKM-Kerajinan-Industri dan Pariwisata, serta dimeriahkan dengan berbagai perlombaan yaitu : Lomba Masak, Lomba Design Batik dan Parade band.
Khusus buat anda pebisnis, pameran ini sangat potensial untuk mempromosikan produk2 unggulan anda,sekaligus menjadi wadah untuk menjalin jaringan bisnis.
Syarat dan Kriteria Lomba-lomba di ACEH Expo 2013
Lomba Masak
      - Terbuka untuk pelajar SMA/SMU, mahasiswa dan umum
      - Team terdiri minimal 2 orang
      - Harus mengisi formulir lengkap dengan menyertakan uang pebdaftaran senilai Rp. 100.000,- dengan menyertakan
      foto copy identitas
      - Pendaftaran dibuka mulai tanggal 4 Maret-25 Mei 2013
      - Peserta diharapkan hadir di tempat perlombaan minimal 1 jam sebelum lomba dimulai
      - Peserta wajib melakukan registrasi ulang minimal setengah jam sebelum lomba dimulai dan menunjukkan identitas
      asli sesuai dengan copy pada formulir lomba dan peserta akan diberikan ID card lomba sebagai peserta yang sah
      dan dinilai oleh dewan juri
      - Peserta diharapkan berlaku jujur dalam mengikuti lomba
      - Peserta wajib memahami dan menyepakati seluruh syarat lomba
      - Dalam menyajikan makanan dilarang keras menggunakan sterofoam dan plastik berbahaya lainnya
      - Setiap team wajib memberikan nama pada hasil masakannya agar tidak terjadi kecurangan atau piagarisme.
      Segala bentuk kecurangan akan mengurangi nilai kelompok/team
      - Setiap team wajib merinci bumbu-bumbu masakannya dalam lembar kertas yang telah disediakan panitia dan
      ditulis pada saat proses persiapan yang waktunya ditentukan oleh panitia setelah mempelajari bahan-bahan
      baku yang disiapkan panitia dimeja setiap peserta lomba
      - Alat dan Bahan (kuantitas akan diberitahuakan selanjutnya)
      - Alat dan Bahan yang sudah disiapkan panitia adalah sebagai berikut :
      - Nasi putih dan bahan baku masakan lain
      - Kompor meja dan peralatan masak standart lainnya
      Hal lain yang menyusul kemudian akan segera diinformasikan :
      - Peserta diperkenanakan membawa peralatan masak sendiri dan memebawa garnish sendiri
      - Waktu perlombaan ditentukan oleh panitia
      - Penilaian meliputi cita rasa, kreatifitas, dan inovasi yang diciptakan. Nama dan keindahan penyajian,
      kebersihan proses memasak dan kerapian. Originitas, kekeompakan peserta. Komposisi bahan, ketepatan
      waktu.
      - Konten penilaian dapat berubah sesuai dengan kesepakatan para dewan juri dan keputusan dewan juri
      adalah mutlak.

      Parade Band
      - Terbuka untuk pelajar SMA/SMU, mahasiswa dan umum
      - Memiliki group band minimal 3 orang
      - Membawakan 2 buah lagu (Pop Alternative-R&B-Raggae) kecuali underground
      - Memakai sepatu dan menarik
      - Mengikuti teknikal meeting pada tanggal 04 Juni 2013 di Lapangan Balang Padang
      - Datang tepat waktu sesuai jadwal tampil
      - Mematuhi tata tertib dan peraturan panitia
      - Pelaksanaan lomba secara live dan dinilai oleh team panitia dan Disbudpar Aceh
      - Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 100.000,-

      Lomba Design Batik
      - Terbuka untuk pelajar SMA/SMU, mahasiswa dan umum
      - Design Batik diatas kertas Ukuran A3
      - Teknik pengerjaan design bebas (manual maupun komputer)
      - Karya design harus disertai deskripsi singkat diatas kertas HVS A4
      - Motif design batik berunsur keanekargaman khas aceh disertai unsur warna khas Aceh (gradasi warna)
      - Peserta boleh menampilkan lebih dari satu karya batiknya
      - Setiap karya batik yang diserahkan harus bersifat orisinal.
      - Pelaksanaan lomba secara live dan dinilai oleh team panitia dan Disbudpar Aceh
      - Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 25.000,-

      Daftarkan diri/perusahaan anda di :
      CantorEO Indonesia
      Taman Yasmin U29 Batam
      Telp: 0778-7042246
      Hp: 0857 722222246- 0813 72222246
      Email: Cantoreo_indonesia@yahoo.com

      Khanduri Aceh 2013: Lestarikan Seni dan Budaya Aceh Melalui Malam Pagelaran Istimewa

      Posted by ridhaputra | | Posted in

       Setelah sukses dengan Gelar Budaya Aceh-nya setahun silam, Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB kembali menggelar sebuah Malam Pagelaran kebudayaan Aceh pada Jumat (15/03/13). Malam Pagelaran Pagelaran yang dihelat di Lapangan Basket ITB ini merupakan acara puncak dari rangkaian Khanduri Aceh 2013.

      Khanduri Aceh 2013 merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas eksistensi UKA di ITB. "Kekeluargaan dan Silaturrahim" diangkat sebagai tema utamanya, sebagi perwujudan filosofi dari keterbukaan, keramahan, dan kekeluargaan seorang pribumi dalam menyambut globalisasi budaya dengan cara tetap menicntai dan melestarikan budaya kelahirannya. Masyarakat Aceh memiliki berbagai macam kebudayaan yang sampai saat ini masih dilaksanakan hingga menjadi warisan budaya. Salah satu tradisi yang dianut secara turun temurun adalah tradisi Khanduri, yang berarti pesta makan setelah berdoa kepada Allah.
      Pada Malam Pagelaran ini, Tarian Ranup Lumpuan disajikan sebagai suguhan pembuka. Tarian yang ditarikan oleh beberapa dara Aceh ini merupakan bentuk penghormatan serta penyambutan tamu, dimana gerakan-gerakan dari tarian ini  mengandung filosofi pembuatan sirih sampai penyuguhannya kepada para tamu.

      Menyusul setelahnya tari-tarian lain yang memperkenalkan kekayaan seni-budaya Aceh, seperti Tari Likok Pulo, Beudoh, serta Rapa'I Geleng. Tarian khas Aceh yang begitu terkenal, Tari Saman, tak ketinggalan pula ikut menghibur penonton pada Malam Pagelaran ini. Tarian yang berasal dari Suku Gayo ini merupakan tarian Indonesia pertama yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya non-benda (World Intangible Cultural Heritage). Pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan dicerminkan dalam tarian ini.
      Anugrah Yudha Pranata, salah satu panitia penyelenggara Khanduri Aceh 2013, mengungkapkan bahwa dengan diadakannya acara ini, diharapkan idealisme untuk turut berperan lebih dalam menunjang kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya kebudayaan Aceh, dapat tumbuh. "Selain itu, kami juga berharap Khanduri Aceh 2013 dapat menjalin tali silaturrahmi antar mahasiswa dan masyarakat umum Aceh yang berdomisili di Bandung," tutupnya.

      PEMERINTAHAN ACEH

      Posted by ridhaputra | | Posted in


      Pemerintahan Aceh adalah pemerintahan subnasional yang setingkat dengan pemerintahan provinsi lainnya di Indonesia. Pemerintahan Aceh adalah kelanjutan dari Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Pemerintahan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pemerintahan Aceh dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh, dalam hal ini Gubernur Aceh sebagai lembaga eksekutif, dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sebagai lembaga legislatif.
      Pemerintahan Aceh dibentuk berdasarkan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa. Perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia menempatkan Aceh sebagai satuan pemerintahan daerah yang bersifat istimewa dan khusus, terkait dengan karakter khas sejarah perjuangan masyarakat Aceh yang memiliki ketahanan dan daya juang tinggi.
      Ketahanan dan daya juang tinggi tersebut bersumber dari pandangan hidup yang berlandaskan syari’at Islam yang melahirkan budaya Islam yang kuat, sehingga Aceh menjadi salah satu daerah modal bagi perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kehidupan demikian, menghendaki adanya implementasi formal penegakan syari’at Islam. Penegakan syari’at Islam dilakukan dengan asas personalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpa membedakan kewarganegaraan, kedudukan, dan status dalam wilayah sesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh.
      Pengakuan Negara atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62, TLN 4633). UU Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial, ekonomi, serta politik di Aceh secara berkelanjutan.
      UU 11/2006, yang berisi 273 pasal, merupakan Undang-undang Pemerintahan Daerah bagi Aceh secara khusus. Materi UU ini, selain itu materi kekhususan dan keistimewaan Aceh yang menjadi kerangka utama dari UU 11/2006, sebagian besar hampir sama dengan UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Oleh karena itu Aceh tidak tergantung lagi pada UU Pemerintahan Daerah (sepanjang hal-hal yang telah diatur menurut UU Pemerintahan Aceh). Karena begitu banyak materi mengenai pemerintahan Aceh maka artikel ini hanya memuat sebagiannya saja. Untuk materi lengkap bisa dilihat di dalam UU 11/2006.

      Soal tenaga bakti, Bupati Bireuen bilang demo mahasiswa tak sesuai fakta

      Posted by ridhaputra | | Posted in



      BUPATI Bireuen Ruslan M Daud menilai mahasiswa yang berunjuk rasa ke Kantor Pusat Pemkab Bireuen tidak menyorot persoalan sesuai fakta. Kata Ruslan, mahasiswa membawa isu honorer, padahal yang diterima Pemkab Bireuen faktanya hanya tenaga magang dan pelatihan kerja.
      “Saya rasa menerima tenaga magang dan pelatihan kerja tidak ada masalah dengan aturan, sebab keberadaaan mereka tidak membebani anggaran Kabupaten Bireuen,” ujar Bupati Bireuen Ruslan M Daud saat ditemui, Selasa 19 Maret 2013.
      Kata Ruslan, lain halnya jika tenaga magang itu ternyata mendapat semacam jerih yang dialokasikan dalam APBK Bireuen. Dia mengatakan tidak berkeinginan mengeluarkan kebijakan yang kontra dengan kondisi Bireuen, sebab niatnya untuk memperbaiki Kabupaten Bireuen.
      Ruslan mengatakan kebijakan menerima tenaga magang dan pelatihan kerja bagian dari upaya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sehingga mempunyai keterampilan, selain untuk memberi ruang kepada anak-anak Bireuen supaya ada kegiatan.
      “Minimal setiap hari mereka akan berkecimpung di pemerintahan, sehingga tidak ada waktu bagi mereka berbuat aneh dan terjerumus ke hal-hal negatif. Sebelum ditempatkan, setiap tenaga magang itu disyaratkan menandatangani surat pernyataan tidak menuntut honor, tidak menuntut diangkat menjadi PNS dan tidak minta fasilitas,” kata Ruslan.
      Soal tuntutan kalangan mahasiswa yang berdemo kemarin, Ruslan mengatakan tidak akan merespon. Sebab dia berkeyakinan kebijakan tersebut sama sekali tidak melanggar aturan.
      Ruslan menyebutkan alangkah indahnya sebelum melakukan unjuk rasa, perwakilan mahasiswa menemuinya untuk membicarakan hal itu supaya sama-sama mengerti dan memahami melalui sebuah dialog. Tetapi, kata dia, hal itu tidak dilakukan mahasiswa yang malah langsung unjuk rasa seakan ada hal besar sangat keliru yang telah dilakukannya.
      “Dari awal saya sudah sampaikan, kalau ada masalah atau kebijakan yang kiranya mengganjal, mari kita musyawarahkan dengan lapang dada untuk mencari solusi, saya selalu siap dan pintu terbuka untuk berkomunikasi dengan semua kalangan, saya ini bupati masyarakat Bireuen,” katanya.
      Ruslan menambahkan, penerimaan tenaga magang itu sebagai bagian untuk memberi ruang kepada para lulusan perguruan tinggi yang terus bertambah saban tahun, sementara lapangan kerja semakin sempit. Dengan bekerja sebagai tenaga magang, kata dia, maka ilmu yang dimiliki dapat dipraktekkan di lapangan.
      Diberitakan sebelumnya, mahasiswa dan pemuda menyebut dirinya Koalisi Mahasiswa Pemuda Peduli Bireuen (KOPER) unjuk rasa ke Kantor Pusat Pemkab Bireuen, Senin 18 Maret 2013. Unjuk rasa tersebut terkait dengan penerimaan tenaga bakti di Pemkab Bireuen.

      Teuku Umar

      Posted by ridhaputra | | Posted in


      Teuku Umar dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada tahun 1854, adalah anak seorang Uleebalangbernama Teuku Achmad Mahmud dari perkawinan dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Umar mempunyai dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki.
      Nenek moyang Umar adalah Datuk Makudum Sati berasal dari Minangkabau. Salah seorang keturunan Datuk Makudum Sati pernah berjasa terhadap Sultan Aceh, yang pada waktu itu terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya. Berkat jasanya tersebut, orang itu diangkat menjadi Uleebalang VI Mukim dengan gelar Teuku Nan Ranceh. Teuku Nan Ranceh mempunyai dua orang putra yaitu Nanta Setia dan Ahmad Mahmud. Sepeninggal Teuku Nan Ranceh, Nanta Setia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Uleebalang VI Mukim. la mempunyai anak perempuan bernama Cut Nyak Dhien[2] .
      Teuku Umar dari kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas , dan pemberani.

      [sunting]Perang Aceh

      Ketika perang Aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, umurnya baru menginjak 19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri, kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah diangkat sebagai keuchik gampong(kepala desa) di daerah Daya Meulaboh[3].
      Pada usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim.
      Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dhien, puteri pamannya Teuku Nanta Setia. Suami Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda.

      [sunting]Taktik Penyerahan Diri

      Rumah Teuku Umar di Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar tahun 1896
      Teuku Umar kemudian mencari strategi untuk mendapatkan senjata dari pihak Belanda. Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek Belanda. Belanda berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer[4].
      Ketika bergabung dengan Belanda, Teuku Umar menundukkan pos-pos pertahanan Aceh, hal tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura untuk mengelabuhi Belanda agar Teuku Umar diberi peran yang lebih besar. Taktik tersebut berhasil, sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pang Laot (panglima Laut]) sebagai tangan kanannya, dikabulkan.

      [sunting]Insiden Kapal Nicero

      Tahun 1884 Kapal Inggris "Nicero" terdampar. Kapten dan awak kapalnya disandera oleh raja Teunom. Raja Teunom menuntut tebusan senilai 10 ribudolar tunai. Oleh Pemerintah Kolonial Belanda Teuku Umar ditugaskan untuk membebaskan kapal tersebut, karena kejadian tersebut telah mengakibatkan ketegangan antara Inggris dengan Belanda.
      Teuku Umar menyatakan bahwa merebut kembali Kapal "Nicero" merupakan pekerjaan yang berat sebab tentara Raja Teunom sangat kuat, sehingga Inggris sendiri tidak dapat merebutnya kembali. Namun ia sanggup merebut kembali asal diberi logistik dan senjata yang banyak sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.
      Dengan perbekalan perang yang cukup banyak, Teuku Umar berangkat dengan kapal "Bengkulen" ke Aceh Barat membawa 32 orang tentara Belanda dan beberapa panglimanya. Tidak lama, Belanda dikejutkan berita yang menyatakan bahwa semua tentara Belanda yang ikut, dibunuh di tengah laut. Seluruh senjata dan perlengkapan perang lainnya dirampas. Sejak itu Teuku Umar kembali memihak pejuang Aceh untuk melawan Belanda. Teuku Umar juga menyarankan Raja Teunom agar tidak mengurangi tuntutannya[5].

      [sunting]Melanjutkan Perlawanan

      Teuku Umar dan pengikutnya (gambar oleh G. Kepper, 1900)
      Teuku Umar membagikan senjata hasil rampasan kepada tentara Aceh, dan memimpin kembali perlawanan rakyat. dan Teuku Umar berhasil merebut kembali daerah 6 Mukim dari tangan Belanda. Nanta Setia, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar kembali ke daerah 6 Mukim dan tinggal di Lampisang,Aceh Besar, yang juga menjadi markas tentara Aceh.
      2 tahun setelah insiden Nicero, pada 15 Juni 1886 merapatlah ke bandar Rigaih kapal "Hok Canton" yang dinahkodai pelaut Denmark bernama Kapten Hansen, dengan maksud menukarkan senjata dengan lada. Hansen bermaksud menjebak Umar untuk naik ke kapalnya, menculiknya dan membawa lari lada yang bakal dimuat, ke pelabuhan Ulee Lheu, dan diserahkan kepada Belanda yang telah menjanjikan imbalan sebesar $ 25 ribu untuk kepala Teuku Umar.
      Umar curiga dengan syarat yang diajukan Hansen, dan mengirim utusan. Hansen berkeras Umar harus datang sendiri. Teuku Umar lalu mengatur siasat. Pagi dini hari salah seorang Panglima bersama 40 orang prajuritnya menyusup ke kapal. Hansen tidak tahu kalau dirinya sudah dikepung.
      Paginya Teuku Umar datang dan menuntut pelunasan lada sebanyak $ 5 ribu. Namun Hansen ingkar janji, dan memerintahkan anak buahnya menangkap Umar. Teuku Umar sudah siap, dan memberi isyarat kepada anak buahnya. Hansen berhasil dilumpuhkan dan tertembak ketika berusaha melarikan diri. Nyonya Hansen dan John Fay ditahan sebagai sandera, sedangkan awak kapal dilepas. Belanda sangat marah karena rencananya gagal[6].
      Perang pun berlanjut, pada tahun 1891 Teungku Chik Di Tiro dan Teuku Panglima Polem VIII Raja Kuala (ayah dari Teuku Panglima Polem IX Muhammad Daud) gugur dalam pertempuran. Belanda sebenarnya pun sangat kesulitan karena biaya perang terlalu besar dan lama.

      [sunting]Penyerahan Diri Kembali

      Penyerangan rumah Teuku Umar di Lampisang tahun 1896
      Teuku Umar sendiri merasa perang ini sangat menyengsarakan rakyat. Rakyat tidak bisa bekerja sebagaimana biasanya, petani tidak dapat lagi mengerjakan sawah ladangnya. Teuku Umar pun mengubah taktik dengan cara menyerahkan diri kembali kepada Belanda.
      September 1893, Teuku Umar menyerahkan diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaraja bersama 13 orang Panglima bawahannya, setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan. Teuku Umar dihadiahi gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland. Istrinya, Cut Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar suka menghindar apabila terjadi percekcokan[7].
      Teuku Umar menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda dengan sangat meyakinkan. Setiap pejabat yang datang ke rumahnya selalu disambut dengan menyenangkan. Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari Gubernur Belanda di Kutaraja, dan memberikan laporan yang memuaskan, sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari Gubernur Belanda.
      Kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh selanjutnya. Sebagai contoh, dalam peperangan Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amin). Pasukannya disebarkan bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para Pemimpin pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.
      Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan Pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara dihadapan Belanda untuk mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan gaji yang diberikan Belanda secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai perjuangan[8].
      Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar.
      Berita larinya Teuku Umar menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera didatangkan dari Pulau Jawa. Vetter mengajukan ultimatum kepada Umar, untuk menyerahkan kembali semua senjata kepada Belanda. Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu. maka pada tanggal 26 April 1896 Teuku Johan Pahlawan dipecat sebagai Uleebalang Leupung dan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda.
      Teuku Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda. Seluruh komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimginan Teuku Umar. la dibantu oleh istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima Pang Laot, dan mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Pertama kali dalam sejarah perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando.
      Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para Uleebalang serta para ulama terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada raja Aceh Sultan Muhammad Daud Syah.

      [sunting]Gugur

      Monumen Teuku Umar Di Meulaboh
      Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapat laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, dan segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat diperbatasan Meulaboh. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat. Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.
      Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir. Dengan gugurnya suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh[9].

      [sunting]Penghargaan

      Atas pengabdian dan perjuangan serta semangat juang rela berkorban melawan penjajah Belanda, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air. Salah satu kapal perang TNI AL dinamakan KRI Teuku Umar (385). Selain itu Universitas Teuku Umar di Meulaboh diberi nama berdasarkan namanya.

      Diberdayakan oleh Blogger.